Kamis, 21 Juni 2012

Ruin Diet in Sugarrush

"Eats Meet Sweets".

This Tagline is written down in one wallside of Sugarrush Cafe . Obviously,  you have to think twice before go here if you work hard with you diet. Because most of menu offered here is contain so so soooo much sugar.Or else, Fat. Appearantly could lead you to Sugar rush. Like these manggo cheese cake and almond coffe I ordered. Eat today, Diet Tomorrow.Hihihi. :D


 

Sugarrush located on Braga Street 83, beside Camal Store. First thing I noticed was the unique interior decoration. They even decorated the rest room, haha. Second, the waitress, all warm! And then, ultimately, the Food.:D 

 
 

My favorite spot is front table near to rectangular window, where we could look out to the street. Lucky you, if you get that table in rainy time. Totally romantic, and classic. Felt like you trapped somewhen in the past. :). But since this place get so many fans in short time, maybe you will have to be in waiting list for a moment before you get table especially in weekend.

Broke your diet once, this really worth a try, believeeee me

Selasa, 19 Juni 2012

Live your life

Seorang teman bercerita pada sesi dinner-bareng iseng disuatu malam minggu lalu tentang bagaimana dia baru merasakan cara "berkeluarga" didalam keluargnya setelah dia lulus kuliah.Bagaimana berperan sebagai kakak, sebagai anak lelaki dewasa, dan semacamnya. Bapak kandungnya meninggal waktu dia masih bayi, si ibunya menikah lagi dengan seorang bapak yang dia definisikan " sangat bertanggung jawab secara finansial, tetapi tidak bagus dalam hal komunikasi", lalu masa kecilnya dihabiskan bersama sang nenek dikampung. Tinggal dirumah bersama ibu-ayah dengan interaksi alakadarnya selama smp-sma, lalu ketika kuliah sebagian besar waktunya dihabiskan dikampus, lab, atau nomaden dari satu kosan teman ke kosan teman lain.Kadang-kadang dia menyewa kamar kost.Sesekali pulang setor muka, padahal jarak rumahnya dan kampus hanya 15 menit. Dia hanya tahu apa itu interaksi keluarga dan peran sebagai anggota keluarga itu dari cerita teman-teman,observasi lingkungan sekitar, atau dari film. Barulah setelah lulus kuliah, dia baru mulai merasakan peran sebagai anggota keluarga, dalam konteks tanggung jawab. Hampir 5 tahun saya mengenalnya dan ini pertama kalinya dia bercerita selengkap itu.

---
I am not good with main point.haha.Karenanya maafkan kalau si saya terlihat sering bertele-tele dalam kalimat-kalimat saya .

Pelajaran pertama saya saat itu adalah tentang belajar memahami realita-realita yang terjadi dalam kehidupan kita. Banyak sekali hal yang tidak berjalan seperti apa yang kita inginkan.Klasik. Dan pelajaran kedua, adalah tentang belajar mencintai proses kehidupan.Hal-hal baik, hal-hal buruk, yang mengantarkan kita pada tempat kita masing-masing saat ini. Dan dalam kedua hal ini, teman saya tadi adalah salah satu contoh yang baik yang nampak dalam kehidupan nyata saya.

Si teman saya dengan segala keadaannya, mungkin dari satu sudut pandang dibilang "tidak normal.Tapi dia masih bisa menyelesaikan kuliah tanpa sedikitpun pemasukan dari orang tua.Ada tulisan cum laude di ijazahnya. Dia menjadi teman yang menyenangkan, partner kerja yang baik.Calon dosen cemerlang masa depan". Dia memilih tetap mencintai dan menghargai hidupnya apa adanya, menjalankan hidup dengan sebaik-baiknya.
 
Pelajaran dari pelajarannya, adalah tentang tidak membiarkan keadaan dan realita menghambat kita melakukan hal-hal baik, mencapai yang terbaik yang bisa kita capai.
Not an easy thing to do, but worth a try.



"Be happy in the moment, that's enough.Each moment is all we need, not more" 
- Mother theresa

Cat versus Kid



nyanyanyanyanyaaaaaa.cuteness overload.uh uh